laporan baca buku 7 Hukum Mengajar


Identitas Mahasiswa
Nama                                  : Bendelina Atalani
 Tingkat/semester               : 4/8
Mata kuliah                                    :
Dosen Pembimbing            : Pdt. Didik Sulistyoadi, M.Th, M.Pd.K
Identitas buku
Judul                                   : 7 hukum mengajar
Pengarang                           : Jhon Milton Gregory
Tehun terbitan                    : 2013 cetakan keempat
Penerbit                              : Gandum Mas
Tebal buku                          : 168 halaman

HUKUM-HUKUM MENGAJAR.
Dengan menemukan hukum-hukum yang mengatur tiap proses, apakah itu alam pikirana atau dunia konkrit, orang mengerti hukum-hukum itu akan mampu mengendalikan proses tersebut dengan jalan menyediakan  semua persyaratan yang diperlukan. Dalam arti bahwa seni menagajar adalah seni menyampaikan pengalaman. Pengalaman yang dimaksut yaitu, pengalaman yang berupa fakta, kebenaran doktrin, gagasan.
Tujuh faktor
Dalam hal mengajar Jhon Milton Gregory juga menulis tentang 7 faktor yang diperlukan agar hal mengajar benar-benar menjadi suatu ilmu.
1.         Faktor guru
2.         Faktor murid
3.         Bahasa pengantar atau sarana komunikasi
4.         Bahan pelajaran atau suatu kebenaran
5.         Tugas guru
6.         Tugas murid
7.         Peninjauan kembali, yang sifatnya merapikan, menerapkan, menyempurnakan serta membulatkan semua  pekerjaan yang telah dilaksanakan.
Tujuh hukum atau hukum-hukum mengajar disebut sebagai peraturan. Dalam tujuh hukum kita bisa melihat betapa kokohnya prinsip-prinsip tersebut sebagai landasan hukum setelah dituangkan menjadi peraturan untuk menagjar karena peraturan-peraturan diatas dan hukum-hukum yang menjadi landasannya akan membuahkan keberhasilan pengajaran.
Dalam pembahasan tentang hukum-hukum ini ada beberapa hal tertentu yang sering diulang-ulangi. Pengulangan yang dibicarakan itu sendiri ada kegunaannya. Tiap pengulangangan akan menandaskan kembali corak-corak penting tertetu dari seni mengajar. Dan menekankna pda guru untuk mengingat prinsip-prinsip yang paling sering memerlukan perhatian mereka.

HUKUM YANG BERSANGKUTAN DENGAN GURU
Untuk jabatan dan tugas seorang guru ad cukup banyak persyaratan yang diakui penting dan seandainya ada guru yang dapat memenuhi semu persyaratan itu, maka ia akan benar-benar menjadi  guru teladan yang sempurna, karena dalam dirinya  terhimpun kecakapan-kecakapan yang tak ada taranya. Persyaratan atau peraturan yang harus dilakukan oleh seorang guru  adalah sebagai berikut.
(1). Persiapkan tiap pelajaran dengan mempelajarinya kembali. (2).Carilah dalam pelajaran itu analogi atau perbandingan dengan fakta-fakta serta prinsip-prinsip lain yang sudah diketahui. (3). Pelajarilah pelajaran itu sampai terwujud suatu suatu konsep yang dapat diuraikan  dengan kata-kata sendiri. (4). Carilah urutan yang logis bagi tiap-tiap lankah dalam pelajaran. (5). Carilah hubungan antara pelajaran itu dengan kehidupan para murid itu sendiri. (6). Pergunakan beberepa banyak bahan baik lain yang cocok. (7). Harap diigat bahwa lebih baik kita mengarti sedikit tetapi benar-benar mantap, daripada mengatehui banyak  tetapi kurang mendalam. (8). Sediakan waktu tertentu untuk mempersiapkan setiap pelajaran. (9).  Memakai buku-buku dan bahan-bahan yang baik tentang pelajaran.
Adapun kesalahan ataupun pelanggaran yang sering terjadi pada guru. Yaitu, Guru mengabaikan untuk tidak mempersiapkan materi dengan baik. Sehingga hal itu mengakibatkan terlaksananya kegiatan mengajar tidak maksimal.
Guru harus mengetahui lebih banyak daripada yang dapat diajarkannya dalam waktu mengajar yang telah ditetapkan, jangan hanya cukup untuk mengisi waktu saja. Hal ini meminta pelajaran dan penyelidikan yang sungguh-sungguh dari seorang guru untuk bisa memahami seluruh pengajarannya. Seorang guru yang menguasai bahan pelajarannya bisa merasa tenteram ketika ia mengarahkan pemikiran murid-muridnya serta mengikutsertakan mereka secara aktif dalam proses mengajar. Dia harus juga mengenal setiap murid cukup baik sehingga dia bisa menerapkan pengetahuannya sendiri dalam kehidupan murid itu.

HUKUM YANG BERKAITAN DENGAN MURID
Ada beberapa 2 hal yang disoroti tentang hukum yang berakitan dengan murid yaitu
1.         Perhatian
Perhatian itu bukan sesuatu yang bersifat tetap, tanpa perubahan. Bila kita berbicara tentang perhatian yang dipusatkan atau penuh, yang kita maksutkan adalah obyek yang diperhatikan itu menguasai atau memenuhi seluruh kesadaranm kita. Tetapi tingkat perhatian setiap orang berbeda. Maka dari itu ada tiga macam atau tingkat perhatian, yang masing-masingnya penting, ditinjau dari segi mengajar dan belajar.
1.         Perhatian yang suka berpindah-pindah, itu sering disebut perhatian yang pasif. Kartena tidak memerlukan usaha untuk menggerakan kehendak.
2.         Namun sifat istimewa pikiran manusia justru adalah bahwa ia mamapu mengatur dan bukannya diatur  oleh pengaruh-pengaruh yang da didekitarnya.
3.         Tetapi untuk belajar, perhatian yang aktif dan penuh usaha ini, tidak selalau yang paling  menghemat tenaga dan efektif.
Seorang guru juga harus memiliki seni dalam mengajar terkhususnua untuk menarik perhatian dari murid. Seorang guru juga harus menganal berapa lama muridnya mampu bertahan untuk mendegarkan ceramah. Hal ini penting untuk dilkaukakna oelah seorang guru.
2.         Minat
Perhatian bergantung pada minat. Lebih mudah untuk memperoleh dan memikat perhatian seorang murid yang berminat. Suatu perintah atau suatu permainan yang menarik perhatian dapat membangkitkan perhatian untuk sementara, tetapi hanya minat yang sungguh dapat membuat perhatian itu bertahan. Kemampuan untuk membangkitkan dan memelihara minat bergantung pada:
·            Menemukan bidang pemikiran murid;
·            Menjaga terhadap gangguan-gangguan dari luar;
·            Memberikan pelajaran yang cocok dengan kecakapan murid;
·            Mendapat kerja sama murid dalam pelajaran.

HUKUM YANG BERSANGKUTAN DENGAN BAHASA
Guru mungkin mempunyai perbendaharaan kata yang lebih banyak, tetapi ia harus membatasi dirinya dan hanya mennggunakan bahasa muridnya. Jika guru menolak atau gagal menyesuaikan diri dengan bahasa murid, pelajaran itu tidak bisa dipahami. "Pakailah kata-kata yang bisa dimengerti oleh murid dan saudara sendiri, bahasa yang jelas dan terang bagi keduanya."
Bahasa yang dipakai akan berbeda untuk tiap tingkatan usia dalam gereja. Untuk menjalankan hukum bahasa, Gregory menyarankan hal berikut ini bagi guru:
·  Pelajari selalu dengan seksama bahasa murid-murid.
·  Ungkapkan pendapat saudara sendiri sedapat-dapatnya dalam bahasa murid.
·  Pakailah bahasa yang paling sederhana dan kata-kata yang paling sedikit untuk menyatakan maksud.
·  Pakailah kalimat-kalimat pendek dengan bentuk yang paling sederhana.\
·  Terangkan arti kata-kata baru dengan lukisan-lukisan.
·  Seringkali ujilah pengertian murid akan kata-kata yang dipakainya.
HUKUM YANG BERSANGKUTAN DENGAN PELAJARAN
Pelajaran itu sendiri memberi arti yaitu, prosese yang harus dikuasai atau soal yang harus dipecahkan. Hukum pelajaran di rumuskan sengai berikut, Kebenaraan yang akan diajarakan harus dipelajarai melalui kebenaran yang sudah diketahui.
Untuk hukum pelajaran, guru harus mengetahui beberapa prosedur yang berkaitan.
1.         Hubungkan dengan pelajaran-pelajaran yang lalu.
Apa yang telah dipelajari boleh dianggap seperti sebagian dari hal- hal yang sudah diketahui. Jika guru telah mengajarkan pelajaran- pelajaran yang lalu itu, dia sudah mengenal keadaan muridnya. Setiap ulangan mendemonstrasikan hukum ini, dan cara yang paling baik untuk menjalankan prinsip ini ialah dengan mengutamakan ulangan (test).
2.         Lanjutkan pelajaran dengan langkah-langkah yang bertahap.
3.         Terangkan dengan lukisan.
Jika kemajuan dalam pelajaran itu terlalu cepat sehingga tak dapat diikuti oleh pikiran murid, maka menyebutkan dan menunjukkan hal-hal yang sudah diketahui murid itu akan membantu pengertiannya. Kata- kata kiasan seperti tamsil, metafora, dan ibarat telah muncul karena perlunya menghubungkan kebenaran-kebenaran sebelumnya dan situasi- situasi serta pengalaman-pengalaman yang sudah diketahui dengan pelajaran yang baru.
HUKUM YANG BERSANGKUTAN DENGAN  PROSES MENGAJAR
Menyediakan bahan pemikiran.
Proses-proses pemikiran terbatas pada pengetahuan yang telah diperoleh. Pelajar yang tidak mengetahui apa-apa tidak dapat berpikir, karena ia tidak mempunyai apa-apa untuk dipikirkannya. Agar seorang bisa membandingkan, mengkritik, mempertimbangkan, dan memperbincangkan, pikirannya harus mengolah bahan-bahan yang telah diperolehnya. Oleh karena itu pelajar memerlukan keterangan yang berdasarkan fakta-fakta, yang dapat dipakai sebagai dasar pemikiran. Pendidikan juga mencakup proses mendesak pelajar dalam mengungkapkan pikirannya, tetapi guru itu tak bisa meminta pelajar mengungkapkan pengetahuan yang sebelumnya tidak ditanamkan dalam pikiran pelajar itu.
Merangsang penyelidikan.
Penting juga untuk membangkitkan semangat menyelidik. Proses-proses pendidikan yang padat dimulai ketika pelajar menanyakan siapa, apa, bilamana, mengapa, dimana, dan bagaimana terjadi sesuatu. Pikiran yang matang menggumuli masalah-masalah alam semesta. Buah apel yang jatuh menyebabkan pikiran Newton bertanya-tanya mengenai gaya berat. Cerek air yang mendidih mengajukan masalah mesin uap kepada Watt. Pertanyaannya menimbulkan kesadaran diri dan pemikiran sendiri. Guru harus menggairahkan pencarian akan pengetahuan ini, demikian juga keinginan untuk mengungkapkan.
Memberi kepuasan.
Jika seorang murid mendapatkan kesenangan dari apa yang dilakukannya, dia mungkin sekali akan melanjutkan aktivitas itu. Ini dikenal sebagai imbalan atau penguatan kembali. Kecenderungannya ialah mengulangi pengalaman yang memuaskan dan menghindari pengalaman yang tidak memuaskan. Kepuasan akan diperoleh apabila hal belajar itu berguna bagi pelajar dalam kehidupannya sehari-hari, dan memenuhi kebutuhannya. Guru itulah yang mempunyai kesempatan untuk menjadikan pengalaman belajar itu bermanfaat bagi setiap murid.
HUKUM YANG BERSANGKUTAN DENGAN PROSES BELAJAR
Hukum mengajar dan hukum belajar  pada mulanya kelihatan hanya sebagai segi-segi yang berlainan dari hukum yang sama. Tetapi sesungguhnya kedua hukum itu benar-benar berbeda, yang satu berlaku untuk pekerjaan guru, yang berikutnya berlaku untuk pekerjaan murid. Hukum yang bersangkutan dengan  dengan proses mengajar menyangkut sarana dengan mana aktifitas sendiri dibangkitkan, hukum yang bersangkutan dengan proses belajar menentukan cara bagaimana aktifitas ini akan dipakai.
Ada tiga tahap belajar yang berbeda, dan tiap tahap itu membawa murid untuk menguasai hal belajar.
Reproduksi
"Mintalah kepada murid untuk mengulang dalam pikirannya pelajaran yang sedang dipelajarinya serta pikirkanlah berbagai bagian dan penerapan dari pelajaran itu sehingga dia bisa mengungkapkan dengan kata-kata sendiri." Memang mungkin untuk mengulang kata-kata yang tepat dari pelajaran apapun dengan menghafalnya. Akan tetapi pelajar yang tidak mengerti apa yang dihafalkannya tidak bisa menghayati pelajaran itu.
Tafsiran
Dalam proses belajar itu sudah terjadi kemajuan yang nyata, ketika pelajar itu diajar untuk memberikan lebih banyak dari kata-kata atau fakta-fakta yang dipelajarinya. Jika dia mengungkapkan pendapatnya sendiri mengenai fakta-fakta itu, maka dia mengerti apa yang diajarkan kepadanya. Dia telah belajar untuk mengolah pikirannya sendiri, demikian juga pikiran orang lain. Kegagalan untuk mendesak agar pelajar mengungkapkan pemikirannya sendiri adalah kesalahan yang sering terdapat pada guru-guru yang tidak terlatih. Seorang guru yang baik jarang menanyakan pertanyaan yang memakai kata tanya "apa". Pertanyaan seperti itu dijawab dengan memberikan fakta-fakta saja. Seorang guru yang terlatih menanyakan "mengapa", sehingga murid-muridnya belajar untuk berpikir sendiri.
Penerapan
Pendidikan bukan sekedar memperoleh atau mengerti pengetahuan. Tidak ada pelajaran yang dipelajari secara sempurna sebelum pelajaran itu diterapkan dalam kehidupan. Menyatakan pendapat dapat melatih pikiran, tetapi menerapkan pengetahuan dapat mempengaruhi kemauan dan mengubahkan kehidupan pelajar. Jika penerapan pribadi yang praktis diabaikan, pelajar-pelajar akan "selalu belajar, tetapi tidak akan pernah mengetahui kebenaran" (2Timotius 3:7).


Komentar