Rencana Pelaksanaan Pembelajaran .


RENCANA PELAKSANAAN PEMBELAJARAN
TAHUN AJARAN MARET 2018



OLEH
BENDELINA ATALANI


STT ELOHIM INDONESIA
MALANG



MATA PELAJARAN                        : PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)
SATUAN PENDIDIKAN                 : SMP
KELAS / SEMESTER                       : 8/1
TEMA                                                 : Memperjuangkan kebenaran
PERTEMUAN                                   : Pertama (1)
ALOKASI WAKTU                          : 1x45 menit
STANDAR KOMPETEISI               : Siswa mampu mewujudkan imannya dalam hidup berpengharapan
KOMPETISI DASAR                       : Siswa mampu untuk memperjuangan kebenaran dalam dirinya.        
INDIKATOR                                     : 1. Menjelaskan arti kata “Benar”
   2. Menjelaskan perbedaan antara kebenaran Manusia dan Kebenaran Ilahi
   3.Menjelaskan bagaimana memperjuangkan kebenaran
TUJUAN PEMBELAJARAN           : 1. Siswa mampu untuk memahami materi yang disampaikan.
                                                                  2. Siswa mampu untuk mempertahankan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
METODE PEMBELAJARAN          : 1. Ceramah
                                                            : 2. Simulasi
Urutan kegiatan
Keterangan
Alokasi Waktu
Kegiatan
Awal
1.      Menyanyi
2.      Doa Pembukaan 
3.      Baca Alkitab (Matius 5 : 34-37; Kis. 4:1-22)
4.      Perkenalan
15 menit
Kegiatan Inti
(UraianMateri)
·           Pengertian
Menurut KBBI, “Benar” berarti tidak salah; tidak berat sebelah; adil; dapat dipercaya. Kebenaran adalah keadaan yang cocok atau sesuai dengan  hal yang sesungguhnya atau semestinya; kelurusan hati;kejujuran. Kebenaran yang dimaksudkan disini bukan “benar” dalam arti 1+1=2 atau kebenaran matematis, melainkan nilai kemanusiaan. Berpijka pada pengertian ini, maka kita dapat menyimpulkan bahwa kebenaran pertama-tama terletak pada pengertian ini, maka kita dapat menyimpulakan bahwa kebenaran pertama-tama terletak pada keadaan hati yang lurus. Keberana itu tidak hanya diukur oleh kebenaran diri sendiri, tetapi juga diukur oleh kebenaran orang lain. Oleh karena itu, secara sederhana kebenaran itu dapat dianggap  sebagai seuatu yang relatif.
Pada pihak lain, ternyata ada kebenaran yang tidak relatif, yang mutlak’ suatau kebenaran yang tidak dapat berdasarkan asas kemanusiaan saja. Ukurannya bukan apakah ini dapat diterimah oleh akal, budaya dan rasa seseorang atau sekelompok manusia, melainkan ukuran yang didasarkan pada kebenaran ilahi, yang datang dari Sang Pencipta. Misalnya pernyataan bahwa Allah berdaulat atas kehidupan manusia. Kebenaran ini, meskipun tidak berasal dari manusia, namun diterima oleh semua orang yang mengaku dan percaya bahwa Tuhan adalah sang Pencipta dan Pemelihara kehidupan manusia, bahkan di junjung tinggi.
1.      Kebenaran Manusia dan kebenaran Ilahi.
a.      Kebenaran manusia
Sesuai dengan judulnya, kebenaran manusia tentu didasarkan pada rasa kemanusiaan. Kebenaran menurut manusia diukur oleh budaya manusia itu sendiri, yang bisa saja bersifat loka dan universal. Kebenaran yang bersifat lokal adalah kebenaran yang diterima oleh sekelompok manusia di satu wilayah tertentu yang belum tentu diterimah dan berlaku di tempat-tempat lain, atau sebaliknya. Sedangkan kebenaran yang bersifat universal adalah kebenaran yang dirterima oleh semua orang disegala tempat dan zaman sebagai kebenaran. Misalnya, orang yang menghilangkan nyawa orang lain mesti mendapat ganjaran, orang yang memperjuangkan keadailan patut mendapat penghargaan, dan lain sebagainyaaaa.
Dalam praktiknya, kadangkala sebuah kebenaran diklaim oleh seorang atau sekelompok manusia  secara sepihak guna melindungi atau memperjuangkan  kepentingannya. Kebenaran  menurut orang lain diabaikan. Akibatnnya, kebenaran itu menjadi subjek. Bahkan, tidak jarang ada yang mengatakan bahwa kebenaran dapat dimanipulasi; artinya sesuatu yang tidak benar dibuat demikian rupa menjadi seolah-olah benar. Contohnya dapat kita ambil dari alkitab.
Alkitab mengisahkan bahwa Yusuf dijual oleh saudara-saudaranya kepada pedagang kepada pedagang budak mesir. Saudara-saudaranya mengatakan kepada ayah mereka, Yakub, bahwa telah dimangsa binatang buas, seraya menunjuk jubah Yusuf yang berlumuran darah (Kej. 37:12-36). Yakub percaya dan menerima hal itu sebagai kebenaran, padahal saudara-saudara Yusuf justru memanipulasi kejadian sebenarnya. Peristiwa seperti ini seringkali kita temukan dalam masyarakat masa kini.
b.   Kebenaran ilahi
Mulai melihat kenyataan dalam hidup sehari-hari bahwa manusia diperhadapkan dengan “kebenaran-kebenara yang relatif” dan mudah dimanipulasi, maka muncullah kesadaran bahwa ada satu kebenaran yang mutlak. Bersamaan dengan itu, pada diri manusia muncul pula kesadaran bahwa tidak ada manusia yang sempurna: ia memiliki kekurangan dan kelemahan teramasuk dalam hal mengartikan kebenaran itu.
Sebagaimana telah kita sebutkan diatas, manusia dapat mengklaim  kebenarannya sendiri sebagai kebenaran yang mutlak. Hal itu muncul justru karena manusia memiliki kelemahan : egosentirisme (segala sesuatu berpusat pada dirinya), materialisme (segala sesuatu diukur oleh kebendaan), hedonisme (segala sesuatu diusahakan untuk memuaskan napsu pribadi), dan sebagainya.
Jika demikian, kebenaran yang bagaimanakah yang dapat dijadikan  manusia sebagai kebenaran yang dapat diandalkan, terpercaya, dan mutlak?
Kebenaran yang sesungguhnya adalah kebenaran Allah, ukurannya ada pada Allah yang dinyatakan  kepada manusia melalui firmanNya (2 Tim. 3:16), Yang digenapi didalam Yesus Kristus, Firman yang hidup (Yoh.14:6). Kebenaran ini mutlak dan sejati; tidak dapat diukur oleh akal manusia, budaya dan rasa seseorang atau sekelompok manusia. Inilah yang dimaksut kebenaran ilahi menurut iman Kristen. 
Dalam iman Kristen kebenaran seperti ini dengan jelas disampaikan oleh Alkitab, misalnya didalam  surat-surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma dan Galatia. Dalam Roma 3:10, dengan tegas dikatakan, “tidaka ada yang benar, seorang pun tidak”. Sebab itu tidak seorang pun yang berhak mengklaim  diri benar karena dia melakukan kebaikan atau taat pada pengajaran tertentu. Mereka semua berdosa, sebagaimana dikatakan dalam ayat-ayat berikutnya, “sebab tidak seorang pun yang dapat dibenarkan dihadapan Allah oleh karena melakukan  hukum Taurat, karena justru oleh hukum Taurat orang mengenal dosa” (rom. 3:20). Agar manusia memperoleh pembenaran, atau memiliki kebenaran itu, maka manusia harus memiliki keyakinan yang teguh atau iman pada kebenaran sejati itu, yaitu kristus Yesus. Iman inilah membawa manusia pada keselamatan (Rom. 1:17;bnd. Gal. 3:11)orang benar akan hidup oleh iman.

25 menit
Sumber Belajar
Buku panduan guru , Alkitab

Kegiatan AKhir
1.      Menanyakan materi yang sudah disampaikan
2.      Baca Alkitab
3.      Doa penutup
5 menit


Mengetahui
Pembimbing                                                                                                    Pengajar

Pdt. Abadi Buadi Stefanus, M. Pd.K                                                             Bendelina Atalani









MATA PELAJARAN                        : PENDIDIKAN AGAMA KRISTEN (PAK)
SATUAN PENDIDIKAN                 : SMP
KELAS / SEMESTER                       : 8/1
TEMA                                                 : Memperjuangkan kebenaran
PERTEMUAN                                   : Ke Dua (2)
ALOKASI WAKTU                          : 1x 45 menit
STANDAR KOMPETEISI               : Siswa mampu Mewujudkan Imannya dalam hidup berpengharapan
KOMPETISI DASAR                       : Siswa mampu untuk memperjuangan kebenaran dalam dirinya.        
INDIKATOR                                     : 1. Menjelaskan arti kata “Benar”
   2. Menjelaskan perbedaan antara kebenaran Manusia dan Kebenaran Ilahi
   3.Menjelaskan bagaimana memperjuangkan kebenaran
TUJUAN PEMBELAJARAN           : 1. Siswa mampu untuk memahami materi yang disampaikan.
                                                                  2. Siswa mampu untuk mempertahankan kebenaran dalam kehidupan sehari-hari.
METODE PEMBELAJARAN          : 1. Ceramah
                                                            : 2. Simulasi

Urutan Kegiatan
Keterangan
Alokasi Waktu
Kegiatan Awal
1.      Menyanyi
2.      Doa pembukaan
3.      Baca Alkitab
10 menit
Kegiatan Inti
(Uraian Materi)
·         Memperjuangkan kebenaran
Hampir dalam semua masyarakat ada ungkapan “berani karena benar”. Ungkapan itu timbul sebagai reaksi terhadap adanya perlakuan atau tindakan  yang berupaya menekan pihak  yang memperjuangkan kebenaran, entah bersifat lokal atau universal. Peristiwa atau kejadian seperti ini sering kita baca atau kita dengar melalui berbagai media.
Sebagai contoh, dari berbagai media kita ketahui bahwa di Afrika selatan ada seorang tokoh poltik dan pejuang hak sasasi manusia yang bernama Nelson Mandela. Berupuluh tahun ia berjuang dari balik trali penjara pemerintah untuk menentnag politik apartheid (yaitu politik diskriminasi warna kulit yang diterapkan  oleh negara Afrika selatan antar keturunan dari Eropa (kilit putih), dan penduduk kulit berwarna). Pemerintah yang berkuasa pada masa itu adalah warga berkulit putih . ia berjuang agar pemerintah mengakui dan menerima kesamaan hak seluruh warga agar pemerintah mengakui dan menerima kesamaan hak seluruh warga negara, baik dalam bidang politik, ekonomi, sosial dan budaya. Dengan kata lain, ia berjuang agar politik apatheid dihapuskan.
Nelson Mandela, bersama-sama dengan seluruh pendukung serta  masyarakat dunia, yakni bahwa apa yang diterapkan oleh pemerintahan apartheid itu tidak benar dan bertentangan dengan kebenaran universal. Tindakan ini juga bertentangan dengan  kebenaran ilahi: dihadapan Allah semua manusia itu sama  harkat dan martabatnya. Band. Kej. 1:26; Gal. 3:28.
Di dalam Alkitab kita juga membaca tokoh-tokoh yang memperjuangkan kebenaran-kebenaran seperti Rasul Petrus dan Yohanes di depan Mahkamah Agama (Kis.4:1-22).
Namun, dalam pengalaman manusia sepanjang zaman, mempertahankan kebenaran itu tidak mudah. Memperjuangkan kebenaran berarti berhadapan dengan kepentingan orang lain yang tidak mengakui atau menerima itu  sebagai kebenaran. Berbagai kepentingan pribadi seringkali membuat orang cenderung melindungi diri dengan kekuasaan dan kekuatan, serta kekerasan untuk membungkam kebenaran itu. Itulah yang dialami oleh  beberapa pejuang kebenaran seperti Nelson Mandela, Martin Luther King, yang terpaksa dibungkam.
Mengungkapkan kebenaran mengandung risiko bagi diri sendiri, dari hal-hal yang kecil hingga hal yang besar, seperti harta benda, keluarga bahkan kehilangan nyanya sendiri. Biasanya, hanya orang-orang yang memiliki cara atau kekuasaan serta kekuatan untuk melindungi diri dan keluarganyalah yang berani mengungkapkan kebenaran itu.
Bagi orang percaya, keberanian untuk menungkapkan kebenaran tidaklah didasarkan pada punya atau tidaknya cara, kekuasaan dan kekuatan  untuk mengatasi ancaman yang muncul. Dasar keberanian orang spercaya untuk menyatakan “ yang benar adalah benar, yang salah adalah salah”  adalah perintah dari Yesus sendiri dalam khotbah dibukit. Yesus menyampaikan perintah agar orang percaya menjujung  tinggi kebenaran, karena manusia tidak dapat mengubah kebenaran itu menjadi   sesuatu yang lain. Kebohongan tetap menjadi kebohongan’; kebenaran tetaplah sebagai kebenaran. Yesus berkata, “Jika ya, hendaklah kamu katakan “ya, jika tidak hendaklah kamu katakan: tidak (Mat.5:37).
Nilai  membela kebenaran adalah nilai yang universal. Namun, bagi orang-orang percaya disamping nilai universal ini ada nilai lain yang mendasari  tindakannya, yakni “kasih kepada Allah dan kasih kepada sesama manusia” (band. Mat.5:47). Dalam alkitab kebenaran senantiasa dikaitkan dengan keadilan.

30 menit
Sumber Belajar
Buku Panduan Guru, Alkitab

Kegiatan Akhir
1.      Memberikan pertanyaan tentang materi yang telah disampaikan
2.      Baca Alkitab
3.      Berdoa penutup
10



Mengetahui
Pembimbing                                                                                                    Pengajar

Pdt. Abadi Buadi Stefanus                                                                             Bendelina Atalani


Komentar